Artikel Lepas
Jawa timurku,
Indonesiaku
DEP
Jawa Timur adalah sebuah provinsi
di bagian timur Pulau Jawa, Indonesia.
Ibukota terletak di Surabaya. Luas wilayahnya 47.922 km², dan
jumlah penduduknya 37.476.757 jiwa (2010). Jawa Timur memiliki wilayah terluas di antara 6
provinsi di Pulau Jawa, dan memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di
Indonesia setelah Jawa Barat. Jawa Timur berbatasan dengan Laut Jawa
di utara, Selat Bali
di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Provinsi Jawa Tengah
di barat. Wilayah Jawa Timur juga meliputi Pulau Madura,
Pulau Bawean,
Pulau Kangean
serta sejumlah pulau-pulau kecil di Laut Jawa
dan Samudera Hindia(Pulau Sempu
dan Nusa Barung).
Jawa
timur adalah salah satu nama provinsi di Indonesia yang memiliki sejarah dan
daerah wisata yang sangat menawan. Dengan penduduk yang ramah dan bersahaja
serta nrimo, menjadikan jawa timur sebagai provinsi yang damai, tentram dan
nyaman untuk ditinggali atau sekedar berwisata menikmati hari libur.
Pesona
keindahan jawa timur sudah ada sejak jaman Majapahit masih berdiri dan
memerintah di tanah Jawa. Pemandangan alamnya yang menakjubkan, masyarakatnya
yang masih melestarikan budaya
tradisional (tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak
pertama), babaran (upacara menjelang lahirnya bayi), sepasaran
(upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah
bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan.), kekeluargaan
yang masih sangat kental, tepo seliro, gotong royong, dan masih banyak hal
positif lainnya yang menjadi ciri khas Jawa timur yang tersohor hingga manca negara.
Sejarah
Jawa Timur
Kehidupan
awal yang ada di Jawa Timur dimulai pada thun 760 SM, tepatnya di Dinoyo
Malang, ditemukannya satu bukti nyata peradaban manusia yang hidup di Jawa
Timur. Lalu pada tahun 1222-1292 diperkuat dengan pemerintahan Ken Arok di
Kerajaan Singosari. Di bawah pemerintahan Ken Arok, Singosari berhasil merebut
wilayah Kediri dari Tanggul Ametung, Tumapel dan masih banyak lagi wilayah
lainnya. Inilah dasar pemerintahan awal yang berada di Jawa timur, yang
berlanjut dengan adanya pemerintahan Majapahit
dan Singasari. Inilah cikal bakal adanya pemerintahan yang terorganisir
dengan adanya sistem pemerintahan terpimpin.
Saat
ini Jawa timur merupakan satu dari delapan Provinsi tertua yang didirikan dua
hari setelah proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945, yaitu
ketika pada tanggal 19 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia —
atau Panitia Kemerdekaan — memutuskan untuk membagi wilayah Republik Indonesia
menjadi delapan propinsi yang masing-masing dipimpin oleh seorang gubernur.
Sekalipun pelantikan para gubernur di delapan propinsi itu bukan dilakukan pada
tanggal 5 September 1945. Namun masih banyak teka teki yang masih belum
terjawab akan apa dan bagaimana pemerintahan tersebut dijalankan.
Dalam sejarah
pertumbuhan pemerintah RI di Jawa Timur, Surabaya merupakan kota yang pertama
kali mencatat riwayat sebagai pusat pemerintahan daerah yang dapat menjalankan
perannya baik ke dalam maupun ke luar. Ketika pemerintah daerah RI di Surabaya
sedang mengonsolidasikan usaha-usaha pemerintahan ke dalam, banyak persoalan
dengan bala tentara Jepang yang harus diselesaikan dengan jalan perundingan.
Hal serupa juga harus dihadapi dengan wakil-wakil tentara Sekutu. Pembentukan
pemerintahan daerah Keresidenan Surabaya itu menimbulkan sengketa dengan
pihak Jepang yang beranggotakan 32 orang dan dipimpin oleh Cak Doel Arnowo,
Bambang Suparto dan Dwidjosewojo, ma- sing-masing sebagai ketua I, II, dan III.
Walau Jawa Timur sudah memiliki pemerintahannya sendiri namun Jepang masih ikut
andil dalam semua sistem pemerintahan yang disusun serta dilaksanakan.
Barulah pada tanggal 12 Oktober 1945, Gubernur R.M.T.A Surjo, yang sebelumnya merupakan residen dari karisidenan Bojonegoro, tiba di Kota Surabaya. Dengan cepat beliau menyusun
staf gubernur yang antara lain terdiri dari Cak Doel Arnowo, Ruslan Abdul Gani,
Mr. Dwidjosewoyo, Bambang. Namun lagi-lagi pemerintahan ini tidak berjalan dengan mulus, dengan
banyaknya pemberontakan yang terjadi dimana-mana membuat pemerintahan saat itu
kocar kacir dan merubah keadaan menjadi siap berperang.
Benarlah dugaan
Gubernur R.M.T.A. Surjo, yang sedang mengadakan rapat di Guber- nuran pada
tanggal 25 Oktober 1945, didatangi oleh dua perwira Inggris utusan Brigjen AWS
Mallaby. Mereka memaksa gubernur menghadap ke kapal perang Sekutu, yang saat
itu berlabuh di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Sudah barang tentu
permintaan ini ditolak tegas. Penolakan ini ternyata kemudian berkelanjutan
dengan pendaratan pasukan Sekutu dan Belanda/NICA dengan maksud untuk merebut
kekuasaan di kota Surabaya. Keadaan inilah yang kemudian membakar pecahnya
perang besar 10 November 1945 di Surabaya, suatu peristiwa yang kini
diperingati sebagai Hari Pahlawan. Pada pagi hari itu pasukan Sekutu, yang
diwakili Inggris, dengan peralatan lengkap, tank dan mortir dan didukung pula
oleh pesawat-pesawat udara menyerang kota Surabaya. Pertempuran besar-besaran
yang melanda kota Surabaya memaksa Gubernur Suryo, atas saran Tentara Keamanan
Rakyat (TKR) untuk memindahkan kedudukan pemerintahan daerah ke Mojokerto.
Sementara pertempuran-pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan terus
berlangsung, Pemerintah Daerah Jawa Timur terus mengadakan konsolidasi dan
pembenahan admi nistrasi pemerintahan. Namun berhubung keadaan di wilayah
Kediri semakin mencekam, kedudukan pemerintah daerah terpaksa dipindahkan lagi
ke kota Malang pada bulan Februari 1947. Di kota ini pulalah dari tanggal 25
Februari sampai 6 Maret 1947 diselenggarakan Sidang Pleno ke-5 Komite Nasional
Indonesia Pusat (KNIP) di gedung yang sekarang ini dikenal dengan Gedung
Sarinah.
Semua ini berlanjut
dengan kesadaran pemerintah Belanda yang tidak mungkin mengembalikan
kekuasaannya seperti sebelum PD II (perang dunia kedua) sudah tidak mungkin
lagi. Akhirnya pemerintah belanda melancarkan aksi lain dengan membentuk suatu
negara-negara kecil didalam susunan pemerintahan NKRI. Negara-negara yang
dibentuk adalah Negara Madura pada tanggal 20 Pebruari 1948, Negara Jawa Timur
pada tanggal 26 November 1948, serta 24-28 Desember 1948 terbentuklah Negara
Indonesia Timur. Pembentukan negara-negara ini dilandaskan pada pengepungan
Belanda pada NKRI, dan sayangnya hal ini diperkuat dengan adanya pemberontakan
besar-besaran yang dilakukan oleh PKI di Madiun pada tanggal 18 September 1948.
NKRI yang semakin melemah, membuat Belanda dapat dengan mudah melancarkan
Agresi militer II pada tanggal 19 Desember 1948. Pada peristiwa inilah seluruh
jajaran kepemimpinan NKRI, termasuk pemimpin pemerintahan Jawa Timur, ditangkap
dan ditahan.
Aksi Militer II Belanda
berakhir dengan tercapainya Persetujuan Roem- Royen tanggal 7 Mei 1949 yang
isinya antara lain mengembalikan Presiden dan Wakil Presiden RI ke Yogyakarta
pada tanggal 6 Juli 1949. Sebagai kelanjutan dari R-R Statements itu, maka dari
tanggal 23 Agustus sampai 2 November 1949, di Denhaag diadakan Konferensi Meja
Bundar (KMB) yang menghasilkan Piagam Pengakuan Kedaulatan Negara Republik
Indonesia Serikat (RIS) oleh Kerajaan Belanda. Di Amsterdam pengakuan
kedaulatan tersebut dilaksanakan oleh Ratu Juliana kepada Wakil RIS Mohammad
Hatta, dan di Jakarta dilakukan antara Wakil Tinggi Mahkota „ Belanda Dr.
Lovink kepada Wakil RIS Sultan Hamengku Buwono IX pada tanggal 27 Desember
1949.
Kehadiran Negara Jawa
Timur sudah tak dapat dipertahankan lagi. Karena itu pada tanggal 13 Januari
1950 Wali Negara Jawa Timur mengajukan permintaan kepada Pemerintah RIS supaya
menyelenggarakan pemerintahan Negara Jawa Timur. Sebagai kelanjutannya maka
pada tanggal 19 Januari 1950 Wali Negara Jawa Timur menyerahkan mandatnya
kepada Pemerintah RIS. Selanjutnya pada tanggal 25 Februari 1950 dalam
resolusi bersama yang diambil oleh DPR Negara Jawa Timur dan Pemerintah Negara
Jawa Timur diputuskan bahwa mulai hari itu daerah Negara Jawa Timur secara resmi
dinyatakan sebagai bagian wilayah negara Republik Indonesia Perkembangan di
Jawa Timur menjadi pendorong yang amat kuat bagi rakyat “Negara Madura” untuk
menuntut pembubaran negara itu. Setelah mengalami pergolakan-pergolakan politik
yang cukup keras, maka pada tanggal 28 Januari 1950 Wali Negara Madura
menyerahkan kekuasaannya kepada DPR Madura Sebagai kelanjutannya maka satu
bulan kemudian pejabat wali negara melaporkan situasi di Madura kepada
Pemerintah RI di Yogyakarta dan memohonkan keputusan bahwa Madura sudah
menjadi wilayah RI. Tetapi karena Surat Keputusan tidak segera diterima, pada
tanggal ,4 Maret 1950 dikirim delegasi menemui Gubernur Jawa Timur, yang
melahirkan surat ke- putusan Gubernur Jawa Timur No. 24/ A/50 tanggal 7 Maret
1950 dan kemudian Surat Keputusan Presiden RIS nomor 110 tanggal 9 Maret 1950
yang menetapkan Madura sebagai daerah keresidenan Republik Indonesia.
Namun sebelumnya, pada tanggal 4 Maret 1950
Pemerintah Pusat menetapkan pembentukan Propinsi Jawa Timur dengan Undang-undang
Nomor 2 tahun 1950. Berdasarkan UU tersebut, wilayah Propinsi Jawa Timur
meliputi tujuh keresidenan: Surabaya, Malang, Besuki, Kediri, Madiun,
Bojonegoro, dan Madura; 29 kabupaten, 8 kota besar/kecil, 138
kewedanaan, 514 kecamatan dan 8.306 kelurahan, dengan jumlah penduduk
seluruhnya 18.027.303 jiwa. Pada perkembangan selanjutnya, pemerintahan
Gubernur Militer Jawa Timur dihapuskan sesuai dengan Perintah Kepala Staf AD
tanggal 30 Juni 1950 Nomor 338/KSAD/I.H. 50 dan Instruksi No. 48/KSAD/Inst. 50
Interad tanggal 24 Juli 1950. Kemudian diterbitkan pula Surat Keputusan Menteri.
Pada tahun 1963 Jawa Timur mencatat pergantian
gubernur dari Suwondo Ranuwidjojo kepada Mohammad Wijono. Ketika itu
penyelenggaraan pemerintahan di daerah masih belum stabil berhubung masih dalam
tahap penyempurnaan melalui berbagai per- undang-undangan. Di samping itu Partai
Komunis Indonesia mulai meningkatkan agitasinya yang mencapai klimaksnya
dengan peristiwa G-30-S/ PKI pada tahun 1965. Keadaan pemerintahan daerah di
Jawa Timur menjadi semakin tidak menentu sesudah peristiwa G-30-S/PKI. Hal ini
disebabkan antara lain oleh adanya sejumlah aparat pemerintahan daerah dan
anggota DPRD yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam
peristiwa berdarah tersebut. Akibatnya sejumlah jabatan dalam pemerintahan
daerah menjadi kosong. Pada tahun 1967 terjadi pergantian di pucuk
pemerintahan. Brigjen Mohammad Wijono sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat
I digantikan oleh R.P. Mohammad Noer sebagai Pemangku Jabatan Gubernur Kepala
Daerah Tingkat I, yang dari tahun 1971 hingga tahun 1976 menjadi gubernur
definitif Ketika Mohammad Noer menjadi Pemangku Jabatan Gubernur Kepala Daerah,
situasi keamanan di daerah Jawa Timur diguncang oleh “PKI Gaya Baru” yang
memiliki basis pertahanannya di Blitar Selatan.
Setelah aksi pengacauan PKI Gaya Baru ini
berhasil ditumpas menjelang akhir tahun 1968, barulah keadaan membaik.
Bersamaan dengan dicanangkannya Repelita I oleh pemerintah Orde Baru, Jawa
Timur mulai mengisi lem- baran-lembaran sejarahnya dengan pembangunan di segala
bidang. Bahkan berkat prestasinya di bidang pembangunan, Jawa Timur tampil
sebagai satu-satunya propinsi di Tanah Air yang pertama kali dianugerahi Pataka
Parasamnya Purnakarya Nugraha oleh Pemerintah Pusat. Jika Jawa Timur dikenal
sebagai daerah yang paling ” kaya” dengan gejolak, hal ini tampaknya
menunjukkan dinamisme yang dimiliki oleh masyarakatnya. Setelah Gubernur Mohammad
Noer digantikan oleh Soenandar Prijosoedarmo (1976-1983), dan selanjutnya
Wahono (1983-1988), lalu Sularso (1988-sekarang), Jawa Timur tetap tampil
sebagai salah satu propinsi yang mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi. Dan
prestasi ini terbukti dalam kemampuannya meraih penghargaan paling terhormat di
bidang pembangunan tersebut empat kali berturut-turut, dari Pelita I sampai
Pelita IV.
Penduduk
Jumlah penduduk Jawa Timur pada tahun 2010 adalah 37.476.757
jiwa, dengan kepadatan 784 jiwa/km2. Kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak
di provinsi Jawa Timur adalah Kabupaten
Malang dengan jumlah penduduk 2.446.218 jiwa, sedang kota dengan
jumlah penduduk terbanyak adalah Kota Surabaya
sebanyak 2.765.487. Laju pertumbuhan penduduk adalah 0,76% per tahun (2010).
Mayoritas penduduk Jawa Timur adalah Suku Jawa,
namun demikian, etnisitas di Jawa Timur lebih heterogen. Suku Jawa menyebar
hampir di seluruh wilayah Jawa Timur daratan. Suku Madura
mendiami di Pulau Madura dan daerah Tapal Kuda
(Jawa Timur bagian timur), terutama di daerah pesisir utara dan selatan. Di
sejumlah kawasan Tapal Kuda, Suku Madura bahkan merupakan mayoritas. Hampir di
seluruh kota di Jawa Timur terdapat minoritas Suku Madura, umumnya mereka
bekerja di sektor informal. Sedangkan untuk Suku Tengger,
yang konon adalah keturunan pelarian Kerajaan Majapahit, tersebar di
Pegunungan Tengger dan sekitarnya. Suku Osing
tinggal di sebagian wilayah Kabupaten Banyuwangi. Orang Samin tinggal di
sebagian pedalaman Kabupaten Bojonegoro.
Selain penduduk asli, Jawa Timur juga merupakan
tempat tinggal bagi para pendatang. Orang Tionghoa adalah minoritas yang cukup signifikan
dan mayoritas di beberapa tempat, diikuti dengan Arab;
mereka umumnya tinggal di daerah perkotaan. Suku Bali
juga tinggal di sejumlah desa di Kabupaten Banyuwangi. Dewasa ini banyak
ekspatriat tinggal di Jawa Timur, terutama di Surabaya dan sejumlah kawasan
industri lainnya.
Bahasa
yang digunakan juga beragam; Jawa, Madura, Osing, Bali dan masih banyak
lainnya. Bahasa Jawa yang digunakan cenderung lebih blak-blakkan, langsung, dan
tanpa adanya tata bahasa yang jelas seperti umumnya bahasa jawa lainnya. Namun
mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa
sehari-harinya.
Agama
yang dianut diJawa sangat beragam--Kristen, Hindu, Katolik, Budha-- walaupun Islam adalah agama mayoritas yang
dianut penduduk Jawa Timur. Keanekaragaman suku di Jawa Timur menjadi landasan
untuk keanekaragaman penyebaran agama yang dianut.
Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan
monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake
(menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu
dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan
acara temu atau kepanggih. Masyarakat di pesisir barat:
Tuban, Lamongan, Gresik, bahkan Bojonegoro memiliki kebiasaan lumrah keluarga
wanita melamar pria, berbeda dengan lazimnya kebiasaan daerah lain di
Indonesia, dimana pihak pria melamar wanita. Dan umumnya pria selanjutnya akan
masuk ke dalam keluarga wanita. Untuk mendoakan orang yang telah meninggal,
biasanya pihak keluarga melakukan kirim donga pada hari ke-1, ke-3,
ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun setelah kematian.
KESENIAN dan BUDAYA
Kesenian
Jawa Timur banyak menggambarkan tentang suku, agama, adat istiadat, hingga
ragam penduduk. Kesenian yang paling terkenal di Indonesia adalah Ludruk, Reog,
Remo, parikan, jaran kepang, ketoprak, wayang uwong, tari
gambyong, tari srimpi, tari bondan, macan kadhuk, singo wulung, dan kelana.
Sedangkan
untuk kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur
bagian barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini
dikenal sebagai Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya
merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut meliputi
eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan),
eks-Karesidenan Kediri (Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek) dan sebagian
Bojonegoro. Seperti halnya di Jawa Tengah, wayang kulit dan ketoprak cukup
populer di kawasan ini.
Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak
dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tuban,
Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan daerah masuknya
dan pusat perkembangan agama Islam. Lima dari sembilan anggota walisongo
dimakamkan di kawasan ini.
Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk
Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang) dan Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman,
mengingat kawasan ini cukup jauh dari pusat kebudayaan Jawa: Surakarta dan
Yogyakarta.
Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak
dipengaruhi oleh budaya Madura, mengingat besarnya populasi Suku Madura di
kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan budaya Jawa,
Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh
budaya Hindu.
Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya
di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial.
Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain: tingkepan
(upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara
menjelang lahirnya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima
hari), pitonan (upacara setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan,
pacangan.
PARIWISATA
Jawa Timur memiliki sejumlah tempat wisata yang
menarik. Salah satu icon wisata Jawa Timur adalah Gunung Bromo,
yang dihuni oleh Suku Tengger, dimana setiap tahun diselenggarakan upacara Kasada. Daerah
pegunungan Malang dan Batu dikenal sebagai kawasan wisata alami yang banyak
terdapat tempat peristirahatan, seperti daerah "Puncak" di Jawa
Barat. Demikian pula daerah pegunungan di perbatasan Pasuruan-Mojokerto,
seperti Prigen, Tretes, dan Trawas.
Wisata alam lainnya di Jawa Timur adalah Taman Nasional (4 dari 12 Taman
Nasional di Jawa), Kebun Raya Purwodadi di Purwodadi, Pasuruan, dan Taman Safari
Indonesia II di Prigen.
Gunung Bromo
Gunung Bromo
Suku Tengger di Gunung Bromo
Kebun raya purwodadi
Jawa Timur juga terdapat peninggalan sejarah pada
era klasik. Situs Trowulan di Kabupaten Mojokerto, dulunya merupakan pusat Kerajaan Majapahit, terdapat belasan candi dan
makam raja-raja Majapahit. Candi-candi lainnya menyebar di hampir seluruh
wilayah Jawa Timur, di antaranya Candi Penataran di Blitar. Di Madura, Sumenep
merupakan pusat kerajaan Madura, dimana terdapat Keraton
Sumenep, museum, dan makam raja-raja Madura (Asta Tinggi Sumenep).

Candi Badut

Candi
Kidal
Jawa Timur dikenal memiliki panorama pantai
yang sangat indah. Di pantai selatan terdapat Pantai Prigi,Pelang, dan Pantai
Pasir Putih di Trenggalek, Pantai Popoh di Tulungagung, Pantai Ngliyep dan
tempat wisata buatan seperti JATIM PARK 1,jatimpark II,BNS,eco green park di Malang,
dan Pantai Watu Ulo di Jember. Di pantai utara terdapat
Pantai Tanjung Kodok di Kabupaten Lamongan, kini telah dikelola dan
dikembangkan oleh Pemkab Lamongan menjadi kawasan Wisata Bahari Lamongan (WBL)masyarakat
JAWA TIMUR sering menyebutnya Jatim Park II yang
sebenarnya Jatim Park II itu sendiri
di malang, Pantai Kenjeran di Surabaya, dan Pantai Pasir Putih di Situbondo.
Danau di Jawa Timur antara lain Telaga Sarangan di Magetan, Bendungan Sutami di
Malang, dan Bendungan Selorejo di Blitar.

Pantai puma

Jatim Park


Pantai

Pantai Balekambang
Kawasan pesisir utara terdapat sejumlah makam
para wali, yang menjadi wisata religi para peziarah bagi umat Islam. Lima dari
sembilan walisongo dimakamkan di Jawa Timur: Sunan Ampel
di Surabaya, Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Sunan Drajat
di Paciran (Lamongan), dan Sunan Bonang di Tuban. Di kawasan pesisir utara
ini juga terdapat gua-gua yang menarik: Gua Maharani
di Lamongan dan Gua Akbar di Tuban, Gua
Gong yang berada di Kabupaten Pacitan. Makam proklamator Soekarno
terdapat di Kota Blitar.

Makam sunan Bonang

Gua
Maharani Lamongan
Surabaya merupakan pusat pemerintahan dan pusat
bisnis Jawa Timur, dimana
terdapat Tugu Pahlawan, Museum Mpu Tantular, Kebun Binatang Surabaya, Monumen Kapal
Selam, Ampel Denta, Tunjungan, dan Kya-Kya. Jatim Park
di Batu dan Wisata Bahari Lamongan merupakan miniatur
Jawa Timur, yang juga merupakan wisata edukasi.
Di Bojonegoro terdapat wisata Kahyangan Api yaitu api
abadi yang sudah ada sejak ratusan tahun,dimana pada waktu PON XV Tahun 2000
diambil api PON dari sini,selain itu juga terdapat Wana Wisata Dander, dan Waduk Pacal
di Kabupaten Bojonegoro.

Kahyangan api

Wisata Pantai WBL, Lamongan

Waduk Pacal, Bojonegoro

Pantai Popoh TulungAgung

Pantai Ngliyep
MAKANAN
KHAS
Makanan khas Jawa Timur di antaranya adalah rawon dan rujak petis.
Surabaya terkenal akan rujak cingur, semanggi,
lontong balap,
sate kerang,
dan lontong
kupang. Kediri terkenal akan tahu takwa, tahu pong, dan getuk pisang. Madiun
dikenal akan nasi pecel madiun dan
sebagai penghasil brem.
Kecamatan Babat, Lamongan terkenal akan wingko babat
nya. Malang
dikenal sebagai penghasil keripik tempe selain itu Cwie Mie dan Bakso juga
merupakan kuliner khas daerah ini. Bondowoso merupakan penghasil tape yang sangat manis. Gresik terkenal
dengan nasi krawu,
otak-otak bandeng,bonggolan dan pudak nya. Sidoarjo
terkenal akan kerupuk udang dan petisnya. Dan Ngawi merupakan penghasil Tempe Kripik. Blitar
memiliki makanan khas nasi pecel. Buah yang terkenal asli Blitar yaitu
Rambutan. Banyuwangi
terkenal dengan sego tempong dan makanan
khas campurannya yaitu rujak soto dan pecel rawon.Tuban terkenal dengan legen dan buah siwalan serta makanan
khasnya yaitu Sego Becek dan Kare Rajungan
"Rhemason" yang terkenal pedas-nya. Jember mempunyai
penganan khas berbahan tape yaitu suwar-suwir,
proll tape yang sangat
manis. Jagung dikenal sebagai salah satu makanan pokok orang Madura, sementara
ubi kayu yang diolah menjadi gaplek dahulu merupakan makanan pokok sebagian penduduk di
Pacitan dan Trenggalek.

Nasi Rawon

Lalapan nasi Jagung
Nasi Soto
Lontong Kupang
Rujak Cingur
Sate
Pecel
Tahu tek
Gatot
Tiwul
Botok sembukan
Lalapan Wader
dawet
Wedang Angsle
Wedang Bajigur
Wedang Jahe
Legen Tuban
siwalan
Ronde
TRANSPORTASI
Transportasi
di Jawa timur terbagi menjadi tiga. Darat, laut dan udara. Semua alat
transportasi sangat mudah ditemukan dimanapun dan dapat mengjangkau disuluruh
penjuru wilayah Jatim.
Transportasi darat
Jawa Timur dilintasi oleh jalan nasional sebagai
jalan arteri primer, di antaranya jalur pantura
(Anyer-Jakarta-Surabaya-Banyuwangi) dan jalan nasional lintas tengah
(Jakarta-Bandung-Yogyakarta-Surabaya). Jaringan jalan tol
di Jawa Timur meliputi jalan tol Surabaya-Gempol
dan jalan tol Surabaya-Manyar.
Saat ini tengah dikembangkan jalan tol trans-Jawa, di antaranya jalan tol
Surabaya-Mojokerto-Kertosono-Madiun-Mantingan, jalan tol
Gempol-Malang-Kepanjen, jalan tol Gempol-Probolinggo-Banyuwangi, serta jalan
tol dalam kota Surabaya: tol lingkar timur dan tol tengah kota. Jembatan
Suramadu yang melintasi Selat Madura
menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura telah selesai pembangunannya dan kini
telah dapat digunakan.
Kota-kota di Jawa Timur dihubungkan dengan
jaringan bus antarkota. Bus dengan Surabaya-Tuban-Semarang,
Surabaya-Madiun-Yogyakarta, Surabaya-Malang, Surabaya-Kediri, dan
Surabaya-Jember-Banyuwangi, umumhya beroperasi selama 24 jam penuh. Rute dengan
jarak menengah dilayani oleh bus antarkota yang berukuran lebih kecil, seperti
jurusan Surabaya-Mojokerto atau Madiun-Ponorogo. Rute dengan jarak jauh seperti
Jakarta, Sumatera, dan Bali-Lombok umumnya dilayani oleh bus malam. Terminal
Purabaya di Waru, Sidoarjo adalah terminal terbesar di
Indonesia.
Setiap kabupaten/kota di Jawa Timur juga
memiliki sistem angkutan kota (angkot) atau angkutan perdesaan (angkudes) yang
menghubungkan ibukota kabupaten dengan daerah sekitarnya. Di Surabaya angkutan
seperti ini dikenal dengan sebutan lyn atau bemo. Taksi dengan argometer
dapat dijumpai di Surabaya-Gresik-Sidoarjo, Malang, Jember, Madiun dan Kediri.
Sebagai alternatif taksi, di Surabaya terdapat angguna
(angkutan serba guna), yang menggantikan helicak (di Jakarta disebut bajaj)
sejak tahun 1990-an. Bus kota dapat dijumpai di Surabaya dan Jember. Becak adalah moda angkutan
tradisional yang dapat dijumpai hampir di setiap wilayah, meski di sejumlah
tempat dilarang beroperasi. Belakangan, terdapat becak bermesin yang dikenal
dengan sebutan bentor (Jawa: becak montor = becak
bermotor).
Kereta api
Sistem perkeretaapian di Jawa Timur telah
dibangun sejak era kolonialisme Hindia-Belanda. Jalur kereta api di Jawa Timur
terdiri atas jalur utara (Surabaya Pasar Turi-Semarang-Jakarta),
jalur tengah (Surabaya Gubeng-Yogyakarta-Jakarta), jalur
lingkar selatan (Surabaya Gubeng-Malang-Blitar-Kertosono-Surabaya), dan jalur
timur (Surabaya Gubeng-Jember-Banyuwangi). Jawa Timur juga terdapat sistem
transportasi kereta komuter dengan rute
Surabaya-Sidoarjo-Porong, Surabaya-Lamongan, Surabaya-Mojokerto,
Madiun-Kertosono, dan Malang-Kepanjen.
Transportasi laut
Pelabuhan Internasional Hub Tanjung Perak
adalah pelabuhan utama yang berada di Surabaya. Pelabuhan berskala nasional di
Jawa Timur meliputi Pelabuhan Gresik di Kabupaten Gresik, Pelabuhan Tanjung
Wangi di Kabupaten Banyuwangi, Pelabuhan Tanjung Tembaga di Kota Probolinggo,
Pelabuhan Pasuruan di Kota Pasuruan, Pelabuhan Sapudi di Kabupaten Sumenep,
Pelabuhan Kalbut di Kabupaten Situbondo, Pelabuhan Sapeken di Kabupaten
Sumenep, Pelabuhan Paiton di Kabupaten Probolinggo, Pelabuhan Bawean di
Kabupaten Gresik, serta Pelabuhan Kangean di Kabupaten Sumenep
Jawa Timur memiliki sejumlah pelabuhan penyeberangan, di antaranya
Ujung-Kamal (menghubungkan Surabaya dengan Pulau Madura) dan Pelabuhan Ketapang
(menghubungan Banyuwangi dengan Gilimanuk, Bali), Pelabuhan Kalianget
(menghubungkan Madura dengan kepulauan), serta Pelabuhan Jangkar di Situbondo.
Transportasi udara
Bandara Internasional Juanda
di Sidoarjo menghubungkan Jawa Timur dengan kota-kota besar di Indonesia dan
luar negeri. Bandara umum lainnya adalah Bandara Abdul Rachman Saleh di Kabupaten
Malang, Bandara Noto
Hadinegoro di Kabupaten Jember, Bandara
Iswahyudi di Madiun, Bandar Udara Blimbingsari di Kabupaten
Banyuwangi, serta Bandar Udara Trunojoyo di Kabupaten
Sumenep.
IKLIM
Jawa Timur memiliki iklim tropis basah. Dibandingkan dengan wilayah
Pulau Jawa bagian barat, Jawa Timur pada umumnya memiliki curah hujan yang
lebih sedikit. Curah hujan rata-rata 1.900 mm per tahun, dengan musim
hujan selama 100 hari. Suhu rata-rata berkisar antara 21-34 °C. Suhu di
daerah pegunungan lebih rendah, dan bahkan di daerah Ranu Pani (lereng Gunung Semeru), suhu bisa
mencapai minus 4 °C,yang menyebabkan turunnya salju lembut.
Indonesia
adalah negara bahari yang sangat indah. Tidak hanya Jawa timur yang memiliki
pemandangan memukau untuk kita kunjungi, namun banyak tempat lainnya yang tidak
dapat diungkap dengan kata-kata.
Inilah
sekelumit tentang Jawa Timur (Jatim) tercintaku. Mungkin masih banyak
kekurangan yang harus diperbaiki, namun lumayanlah........Terimakasih buat yang
sudah membaca. Semoga apa yang saya tulis bisa bermanfaat. Kalau ada wisatawan
yang minta diantarkan monggo, saya siap mengantarkan.
Saya
sebagaipenulis meminta maaf jika ada salah kata, tempat, bahkan peristiwa.
Maklumlah tulisan ini saya buat hanya dengan modal membaca beberapa literatur
yang saya kagumi, sehingga menghasilkan rasa ingin tahu untuk terus membaca dan
menuliskan kembali sesuai fersi yang saya fahami. Sekali lagi mohon maaf.
DAFTAR
PUSTAKA:
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi
Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Profil Propinsi
Republik Indonesia, Jawa Timur ,Jakarta, desember 1992, hlm. 1-10
Comments
Post a Comment